Dilahirkan dari rahim ibundanya, Tarhibah, istri dari Ta’yid Djufri pada malem selasa kliwon, 12 September 1982, pukul 02.00 dini hari. Si jabang bayi diberi nama faried wijdan, sebuah nama yang cukup indah dan menyiratkan makna mendalam. Ayah bundanya berharap anak laki-laki pertamanya memiliki intuisi tersendiri, lain dari intuisi kebanyakan orang di dunia ini. Faried kecil menghabiskan masa kecilnya di sebuah desa terpencil di bagian timur Kabupaten Semarang dan berbatasan dengan Kab. Boyolali. Tepatnya Desa Blimbing, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Susukan, Kab. Semarang. Desa itu sampai sekarang masih terjaga keindahan dan setting naturalnya.
Dia tempuh pendidikan dasar dan menengahnya di kampung halamannya sambil nyantri kalong/ mengeruk ilmu agama di Pondok Pesantren Al-Huda, Petak. Sebuah pesantren milik eyangnya K.H Djufri, seorang ulama di Kabupaten Semarang dan mursyid Tariqah Naqsyabandiyah dengan ribuan pengikut. Selepas menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya di MTsN Susukan, dia melanjutkan lelaku intelektualnya ke Kota Budaya, Surakarta. Dia menuntut ilmu di MAKN Surakarta (dulu bernama MAPK Surakarta), sebuah sekolah program unggulan binaan Departemen Agama yang menerapkan sistem Boarding School, tamat pada tahun 2000. Sewaktu di MAKN, dia menjabat sebagai Departemen Penggerak Bahasa Inggris di asrama. Berbagai penghargaan berhasil dia raih dalam Lomba Pidato Bahasa Inggris, baik di kawasan Surakarta, Jawa Tengah dan DIY.
Pada tahun yang sama dia “nekad” lari ke kota Jakarta untuk mengundi nasibnya. Dengan bekal semangat dan tekadnya, “Si Naked Fighter” (Pejuang Nekat) ini terdampar di UIN Jakarta. Dia memilih jurusan Administrasi Perdata, Fakultas Syariah dan Hukum. Akhirnya dia tamatkan strata satunya pada bulan Maret tahun 2005. Sewaktu menjadi mahasiswa beragam pengalaman dan petualangan pernah dia lakukan. Mulai dari menjadi Broker SIM dan STNK sampai menjadi karyawan kontrak di sebuah perusahaan air minum swasta terkenal. Penah menjabat sebagai Koordinator Penelitian dan Pengembangan di BEMJ, Ketua Umum Ikatan Alumni MAPK/MAKN Surakarta Jakarta Raya. Pernah juga menjadi Staf Peneliti di Pusat Studi Hukum dan HAM UIN Jakarta, meski hanya sebentar. Sekarang tengah mencari pengalaman di Depok, mengabdikan diri sebagai editor di sebuah “pabrik aksara”.
