Tragedi Zakat Maut Pasuruan: Tamparan Bagi Penguasa

September 16, 2008

Demi uang sebesar Rp 30.000, ribuan orang di Jl Wahidin, Pasuruan, rela berdesak-desakkan hingga menewaskan 21 orang.

Peristiwa tragis itu terjadi saat pembagian zakat yang dimulai pukul 10.00 WIB. Ribuan warga miskin yang datang dari berbagai pelosok desa di sekitar Kota dan Kabupaten Pasuruan itu berebut saling berdesakan guna mendapatkan zakat dengan nilai nominal Rp 25.000 per orang yang diberikan keluarga dermawan H Soikhon di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Kota Pasuruan.

Keluarga Soikhon mengatur para penerima zakat untuk masuk satu per satu ke halaman rumahnya, sehingga ribuan orang yang terkonsentrasi di sebuah gang tak bisa bergerak, bahkan orang yang pingsan pun tidak bisa keluar. Puncaknya adalah 21 orang tewas!

Hati saya cukup miris, tercabik-cabik, perasaan iba dan dongkol berkelindan menjadi satu ketika semua stasiun TV dan Media cetak di Republik ini serentak mengabarkan tragedi ini. Dua Puluh satu orang tewas (semuanya perempuan) dan belasan orang lainnya harus berdarah-berdarah, nahas terinjak-injak oleh sesama mustahiq (penerima zakat) lainnya. Mereka rela menempuh perjalanan kiloan meter, bahkan rombongan kaum dhuafa ini berasal dari kabupaten berbeda demi mengais uang Rp25 ribu.

Tragedi di pembagian Zakat di Pasuruan adalah sebuah potret telanjang tentang kemiskinan di Nusantara ini. Sebuah kemiskinan struktural yaitu kemiskinan struktur sosial dan kemiskinan yang diakibatkan oleh struktur kekuasaan. Masyarakat miskin menjadi sangat bergantung pada pola bantuan yang didistribusikan secara massal pada waktu-waktu tertentu yang tidak efektif mengentaskan kemiskinan.

Tewasnya 21 orang saat antri pembagian zakat merupakan potret buram kemiskinan yang harus menggugah hati nurani setiap pemimpin dan orang-orang kaya di negeri ini.

Pada saat yang sama, para politisi sedang menghambur-hamburkan dana yang begitu besar untuk meraih kursi kekuasaan. para tokoh yang mewakili kita justru bertindak deksura ora toto. Bagaimana para pemimpin yang mengatur kehidupan bernegara kita hidup berfoya-foya. Dan, mereka yang kita percaya sebagai imam hidup kita justru membawa kehidupan makin suram.

Struktur kekuasaan yang masih berbicara kepura –puraan , lipstik angka kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi akan memperdalam jurang kemiskinan dan terjebak dalam kemiskinan struktural. Bukan urusan pemerintah dalam menyelesaikan masalah penyaluran zakat di mana pemerintah membentuk Badan Amil Zakat akan tetapi pemerintah harus bekerja keras untuk memberantas kemiskinan. Kejadian di Pasuruan adalah bukti kemiskinan struktural sedang berjalan dan krisis eksistensi menjadi penjara kaum miskin.

Makin jelas bagi kita, seperti apa rupa kemiskinan yang terjadi di negeri ini. Jelas bukan seperti yang dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengklaim angka kemiskinan di Indonesia telah mengalami penurunan sebesar 10 juta jiwa selama Indonesia dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jika sebelumnya angka kemiskinan mencapai 40 juta jiwa, saat ini jumlah penduduk miskin di Tanah Air diperkirakan berjumlah 30 juta jiwa.

Kemiskinan tak lagi menjadi mimpi buruk. Ia telah benar-benar menjelma menjadi barisan manusia-manusia tak berdaya yang hadir di mana pun ada remah-remah rezeki, termasuk di rumah keluarga H Saikhon.

Ya, mereka adalah para fakir miskin yang berniat menerima zakat. Entah gambaran seperti apa yang tepat untuk melukiskan kemiskinan yang melanda masyarakat kita. Gambaran-gambaran di atas boleh jadi telah cukup akurat, tapi melihat fakta yang ada mungkin kata nekat perlu pula ditambahkan, termasuk nekat untuk mati demi tiga lembar sepuluh ribuan.

Saya percaya, sebagian besar yang datang ke rumah keluarga H Saikhon adalah orang-orang yang berniat mulia, berniat mencari sedekah untuk menyambung hidup, menyenangkan orang rumah untuk beli makanan atau membeli pakaian bekas.

Saya juga percaya, Pak Saikhon tulus membagikan sebagian kekayaannya untuk para fakir miskin. Yang jadi soal, kenapa ia membagi sendiri zakatnya itu kepada ribuan orang.

Mungkin benar pendapat pengamat sosial Prof DR M Ali Haidar MA yang menilai musibah yang mengenaskan itu menunjukkan ketidakpercayaan orang yang berzakat kepada institusi yang menangani zakat. “Ketidakpercayaan itu mendorong orang yang berzakat langsung membagikan sendiri zakatnya,” kata guru besar Universitas Negeri Surabaya itu.

Maklumlah, salah satu “penyakit gawat” yang terus mewabah pada bangsa ini adalah hilangnya kepercayaan orang per orang dan kepercayaan orang terhadap institusi, termasuk institusi negara.

Menyakitkan memang. Apalagi ini terjadi saat umat Islam sedang menjalani ibadah puasa. Apalagi ini terjadi di kala para tokoh sedang riuh rendah menawarkan janji-janji manis dalam rangka menghadapi pemilu 2009. Apalagi ini terjadi di bumi gemah ripah… loh jinawi. Kemiskinan ternyata masih menjangkiti masyarakat Indonesia. Saking miskinnya, mereka rela gadaikan nyawa demi lembaran rupiah seharga 3 bungkus rokok.

(Disarikan dari berbagai sumber).

Iklan

Shalat Yang Tak Hanya Menjadi Sebuah Rutinitas

September 5, 2008

“Shalat tak ubahnya seperti alarm untuk membangunkan, sebuah peringatan pada jam-jam yang berbeda-beda di waktu siang dan malam, yang menyediakan program bagi manusia, dan menuntut tanggung jawab atas pelaksanaannya, sehingga siang dan malam menjadi bermakna dan menjadikan dirinya bertanggung jawab atas waktu-waktu yang telah dilaluinya”

Shalat dan doa merupakan komunikasi paling intim antara manusia dan Tuhan, antara makhluk dan Sang Pencipta. Shalat melimpahkan kelezatan dan ketenangan kepada hati yang lelah, resah dan gelisah, sekaligus merupakan hakikat penyucian batin dan pancaran cahaya bagi jiwa manusia.

Ia sebuah komitmen, motivasi untuk bertindak, pengerahan diri, dan permakluman untuk berserah diri—dengan cara yang paling tulus, jauh dari tipu daya dan angan—, untuk mengingkari segala macam kejahatan dan kebobrokan, dan pada saat bersamaan untuk menegaskan segala kebaikan dan keindahan. Ia sebuah program menemukan jati diri, dan selanjutnya program penyucian diri secara terus menerus. Atau ringkasnya, ia hubungan tak ternilai yang tak henti-hentinya mengalirkan manfaat dengan mata air segala kebaikan, yakni Tuhan Yang Mahaagung.

Mengapa shalat dipandang sebagai kewajiban paling penting dan utama? Mengapa shalat dilukiskan sebagai fondasi dan dasar keimanan? Kenapa tanpa shalat tak ada amal yang dapat diterima? Untuk menemukan jawaban ini, mari kita menganalisa dan menilai beragam aspek dan dimensi shalat. Untuk memulainya, sudah selayaknya kita fokus pada maksud dan tujuan di balik penciptaan manusia, yang  dipandang sebagai salah satu poros utama di dalam pandangan-dunia Islam.

Jika manusia adalah makhluk ciptaan, dan kita percaya bahwa satu tangan yang kuasa dan bijak telah menciptakannya menjadi ada, sungguh logis berpikir bahwa pasti ada beberapa maksud dan tujuan di balik penciptaan makhluk ini. Tujuan ini katakanlah: mencari jalan yang mengantar pada tujuan akhir atau Tuhan; menempuh jalan itu menurut peta akurat dan alat-alat lainnya, hingga akhirnya mencapai tujuan akhir yang diinginkan.

Dalam hal ini sungguh penting menemukan jalan tersebut, menentukan rute serta selalu mengingat tujuan yang hendak dicapai. Seseorang yang melangkah mengawali perjalanan ini harus berjalan mantap ke depan, tak henti-hentinya mengingat tujuan akhir, tak boleh teralihkan oleh berbagai godaan yang menghadang atau lalai melakukan berbagai perbuatan sia-sia; dan terus menjaga posisi yang benar mengikuti arah tujuan, dan tidak menyimpang dari petunjuk yang telah ditetapkan oleh Pemimpinnya (Nabi Muhammad Saw).

Tujuan itu, tak lain adalah sebuah langkah manusia menuju keagungan dan kesempurnaan tak terbatas. Sebuah perjalanan kembali kepada Allah dan kepada  sifat-sifat fithri. Yakni perjalanan untuk menemukan kemampuan dan potensi alami di dalam diri lalu menggunakannya di atas jalan kebaikan, demi kesejahteraan diri sendiri, sesama dan juga seluruh dunia. Karena itu, kita mesti mengenal eksistensi Allah dan jalan yang telah dirancang-Nya untuk keagungan manusia, dan mesti bergerak ke arah keagungan itu, tanpa ragu dan lesu.

Untuk memikul tugas-tugas ini, yang mengantarkan pada tujuan, putuskan diri dari hal-hal yang berbahaya dan merugikan, pancangkan makna pada hidup ini, sesuatu yang harus menjadi falsafah hidup—jika tidak maka kehidupan akan terasa hampa dan sia-sia. Dengan kata lain, hidup ini tak ubahnya seperti sebuah kelas atau laboratorium di mana kita harus bertindak sesuai dengan hukum dan rumus-rumus yang telah digariskan Allah untuk kita, Sang Pencipta dunia dan semua kehidupan, demi mencapai dan memperoleh sebaik mungkin hasil yang diinginkan.

Kita harus mengenal hukum-hukum ini, yakni ajaran-ajaran Allah beserta sunnatullah-Nya (hukum-hukum alam yang telah ditetapkan-Nya), dan membentuk kehidupan kita menurut hukum-hukum itu. Karena itu, pertama-tama kita harus mengenal diri kita sendiri, dan berbagai kebutuhannya, yang dianggap sebagai salah satu tanggung jawab dan kewajiban terbesar umat manusia. Hanya setelah menunaikan tugas besar inilah manusia akan mampu bergerak  maju dengan mantap dan sukses, jika tidak pasti  ia akan  dianggap malas, acuh tak acuh dan gagal.

Agama tidak hanya menentukan arah dan tujuan, jalan dan rute perjalanan, tetapi juga menganugerahi manusia kekuatan yang dibutuhkan dan bekal saat menempuh jalan menuju kesempurnaan; tentunya bekal paling penting yang harus dibawa oleh sang musafir di jalan ini tak lain adalah “mengingat Allah”.

Sayap-sayap kokoh penerbangan ini adalah pencarian, harapan dan keyakinan, yang tak lain merupakan hasil dari “mengingat Allah” itu sendiri. Di satu sisi ia menjadikan kita sadar akan tujuan mempertautkan diri pada-Nya—Kesempurnaan Mutlak—dan pada saat yang sama mencegah penyimpangan, dan menjaga sang musafir tetap waspada dan hati-hati dari berbagai jalan dan cara. Di sisi lain, ia melimpahkan keberanian, kebahagiaan dan kepercayaan ke dalam diri serta melindunginya dari gangguan dan frustasi, ketika menghadapi keadaan kejam dan kasar.

Masyarakat Islam, dan setiap kelompok atau individu, dapat bergerak mantap di jalan yang telah dipetakan Islam dan dipraktikkan oleh semua nabi, tanpa harus berhenti atau berbalik mundur saat sudah berada di tengah perjalanan; hanya jika mereka tidak lupa mengingat Allah. Karena pertimbangan inilah Islam berusaha dengan sebaik-baiknya memberikan berbagai jalan dan cara untuk tetap menghidupkan “mengingat Allah” di dalam hati orang-orang mukmin sepanjang waktu.

Satu jalan demikian, yang sepenuhnya terisi dengan motivasi mengingat Allah, dan yang memampukan manusia menenggelamkan diri di dalamnya, membuatnya sadar dan menemukan diri, dan yang berperan sebagai tanda petunjuk jalan bagi mereka yang menempuh jalan Allah, yang mencegah mereka dari labirin kelalaian dan berdiri termangu di tengahnya,  tidaklah lain melainkan shalat.

Manusia, karena keasyikannya, tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir atau memikirkan dirinya, tentang tujuan hidupnya, dan tentang berlalunya waktu, jam dan hari. Sangat sering, siang berganti malam, hari baru dimulai dan minggu serta bulan berlalu begitu saja tanpa seseorang memiliki kesempatan untuk menyadari berlalunya waktu, maknanya dan kesia-siaannya.


Ibnu Taimiyyah Mengamalkan Amalan Orang NU

September 5, 2008

Ciri yang khas dari warga Nahdhiyyin adalah tahlilan, membacakan Al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya untuk keluarga atau teman atau kaum Muslimin. Hal demikian dikerenakan keyakinan mereka bahwa pahala bacaan dan dzikir yang diniatkan untuk dihadiahkan pahalanya itu sampai kepada si mayyit!

Praktik kaum Nahdhiyyin ini mendapat kecaman tajam dari kaum Salafiyyun alias Wahabi, para pengikut setia Ibnu Taimiah. Mereka menuduhnya sebagai praktik bid’ah yang sesat dan menyesatkan! Tidak pernah disyari’atakan dalam Islam! Dan Anda perlu tahu bahwa Islam sejati dalam pandangan kaum Wahabi adalah apa yang disampaikan Ibnu Taimiah! Apa yang diucapkan Ibnu Taimiah adalah Islam dan apa yang ditolak Ibnu Taimiah bukan dari Islam! Pendek kata, Ibnu Taimiah adalah barometer kebenara Islam!

Sekali lagi, jihad paling digemari kaum Salafiyyun adalah memberantas bid’ah sesat dan menyesatkan, dan tahlilan adalah praktik bid’ah yang sesat dan menyesatkan! Oleh kerena itu, kaum Salafiyyun alias Wahabi, berjuang mati-matian (ndak mati beneran) memberantas dan mengecam tahlilan ala NU. Kaum NU di mata kaum Salafi adalah ahli bid’ah, kuburiyyun (doyan ngalap berkah dari kuburan), maulidiyyun, istighatsiyyun, tawassuliyyun dll.

Pendek kata praktik tahlilan itu bid’ah! Yang melakukannya atau membolehkannya adalah ahli bid’ah…. titik!!!

Setelah ngotot berjuang meberantas tahlilan, eh lakok gletek ternyata Ibnu Taimiah “Syeikhul-Islam”-nya Wahabi doyan tahlilan juga. Kalau begitu Ibnu Taimiah itu NU juga dong?!

Pada suatu kali Ibnu Taimiah ditanya, apakah Pahala bacaan Al Qur’an itu sampai kepada mayyit? Beliau menjawab:

Adapun bacaan di atas kuburan itu dimakruhkan oleh Abu Hanifah, Malik dan dalam salah satu riwayat Ahmad, sementara dalam riwayat beliau lainnya tidak memakruhkannya, ia mengizinkannya kerena telah sampai kepadanya hadis Ibnu Umar bahwa ia berwasiat agar dibacakan pembukaan dan penutup surah al- Baqarah di atas kuburannya. Dan telah diriwayatkan dari sebagian sahabat agar dibacakan surah al Baqarah di atas kuburan mereka.

Adapun bacaan ketika dikuburkan, maka ia telah diriwayatkan, dan adapun setelahnya tidak ada riwayat tentangnya. (Majmû’ Fatâwa,24/298).

Ia juga ditanya, apakah bacaan dan sedekah yang dilakukan seseorang untuk dihadiahkan pahalanya kepada mayyit itu sampai atau tidak? Ia menjawab:

Bacaan dan sedekah dan amal-amal kebajikan lainnya tidak diperselisihkan di antara ulama Ahlusunnah wal Jama’ah bahwa akan sampai pahala amal-amal ibadah mâliah (harta) seperti sedekah dan memerdekakan budak, sebagaimana sampai juga pahala doa dan istighfar, shalat jenazah dan mendoakannay di atas kuburan. Para ulama itu berselisih dalam masalah sampainya pahala amal-amal badainiah seperti puasa, shalat dan bacaaan Al Qur’an. Pendapat yang benar adalah semua pahala amal-amal itu akan sampai. Telah tetap dalam Shahihain (Bukhari & Muslim) dari Nabi saw., “Barang siapa mati dan ia ada tanggungan puasa maka keluarganya berpuasa untuknya.” Dalam hadis lain, “Bahwa Nabi memerintah seorang perempuan yang ditinggal mati ibunya sementara ia mempunyai tanggungan puasa agar si anak itu berpuasa untuk ibunya.”… (Majmû’ Fatâwa,24/366)

Dalam kesempatan lain ia juga ditanya, apakah bacaan keluarga mayyit, tasbihan, tahmidan dan tahlilan serta takbiran (membaca Al Qur’an, subhanallah, Alhamdulillah, Lâ Ilâha Illallah, dan Allahu Akbar) jika dihadiahkan pahalanya untuk si mayyit akan sampai atau tidak? Maka ia menjawab:

“Akan sampai bacaan keluarga; tasbihan, takbiran mereka, dan seluruh jenis dzikir kepada Allah jika dihadiahkan kepada mayit akan sampai.”

Jadi kelihatan jelas bahwa Islamnya Ibnu Taimiah adalah Islamnya NU! Maka jika NU dikecam sebagai ahli bid’ah yang sesat dan menyesatkan, maka yang pertama harus disesatkan adalah Syeikhul-Islamnya Salafiyyin alias Wahabi itu!


The Way to Work

September 5, 2008

In order to start turning the cogwheels of your work,

You need willpower

You need courage

You require great effort

However,

Work shouldn’t continue that way

First, acquire the power of habit

Next, learn the method to work mechanically

Then, you will be able to achieve great results with ease

And sometimes,

Make sure to relax your mind and body

And wait until you regain your energy

You will also need

New experiences

And knowledge on unfamiliar subjects

When something is accomplished with inspiration

People consider it a work of genius

However, inspiration will not come down to you

If you are lazy

Heaven offers full support to

Those who make steady efforts

Those who have built good habits

And gained the ability to work mechanically

( Puisi Ryuho Okawa)


Dinasti Saud Satu Trah dengan Yahudi, Benarkah?

September 5, 2008

Penelitian dan Penelusuran Mohammad Sakher (seseorang yang akhirnya dibantai oleh rezim Saudi karena temuannya yang menggemparkan ini)

1. Dari manakah asal Dinasti Saud? Bagaimanakah runut garis genealoginya? Benarkah mereka berasal dari trah Anza Bin Wael?
2. Benarkah mereka sejak awal sudah memeluk Islam?
3. Benarkah mereka keturunan Arab asli?

Pada tahun 851 H ,sekumpulan pria dari Bani Al Masaleekh, yaitu trah dari Kaum Anza,yang membentuk sebuah kelompok dagang (korporasi) yang bergerak di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makananan lain dari Irak,dan membawanya kembali ke Najd.Direktur korporasi ini bernama Sahmi bin Hathlool. Kelompok dagang ini melakukan aktifitas bisnis mereka sampai ke Basra,di sana mereka berjumpa dengan seorang pedagang gandum bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe, seorang Yahudi. Ketika sedang terjadi proses tawar menawar,yahudi itu bertanya kepada mereka “Dari Anda berasal?”
Mereka menjawab”Dari Kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al-Masaleekh. ”Setelah mendengar nama itu , yahudi itu menjadi gembira dan juga mengakui dia berasal dari kaum keluarga yang sama,tetapi terpaksa tinggal di Basra, Irak. Karena persengketaan keluarga antara bapaknya dan ahli keluarga kaum Anza.

Dia kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan keranjang-keranjang berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal ini adalah sebuah ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al Masaleekh itu, dan menunjukkan kegembiraan mereka karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Mereka adalah sumber pendapatan, relasi bisnis baginya (Yahudi). Mereka adalah para saudagar kaya raya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyikan di balik roman muka Arab dari kabilah Al-Masaleekh.

Apabila rombongan itu hendak bertolak ke Najd, para saudagar Yahudi tersebut meminta izin mereka untuk menemani mereka ,kerana dia ingin pergi bersama mereka ke tanah asal mereka Najd. Setelah mendengar tawaran lelaki Yahudi itu,mereka amat berbesar hati dan menyambut mereka dengan gembira.

Akhirnya,Yahudi yang sedang taqiyyah alias nyamar itu tiba di Najd dengan pedati-pedatinya. Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, kolega dagang dan saudara sepupunya yang keturunan Bani Al-Masaleekh tadi. Setelah itu, berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tetapi tanpa disangka, dia berhadapan seorang ulama yang menentang doktrin dan fahamnya. Dialah Syekh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, seorang ulama kharimatik dari distrik Al-Qaseem.

Daerah-daerah yang menjadi lokasi disseminasi dakwahnya sepanjang distrik Najd, Yaman, dan Hijaz. Karena suatu alas an, Yahudi itu (yang menurunkan Keluarga Saud itu) berpindah dari Al Qaseem ke Al Ihsa. Di sana, dia merubah namanya dari Mordakhai menjadi Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menitip di sebuah tempat bernama Dir’iya yang berdekatan dengan Al-Qateef. Di sana, dia memaklumatkan propaganda dustanya, bahwa pedang Nabi Saw. telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang pagan (musyrikin) pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan Kaum Muslimin.

Katanya “Pedang itu telah dijual oleh arab musyrikin kepada kabilah kaum yahudi bernama Banu Qunaiqa’yang menyimpannya sebagai harta karun. Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya di kalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaimana Kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dlir’iyya, yang berdekatan AL- QATEEF. Di daerah ini ingin dia jadikan sebagai pusat Teluk Persia. Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai batu loncatan untuk mendirikan kerajaan Yahudi di tanah Arab.

Untuk memuluskan cita-citanya itu ,dia mendekati kaum Arab Badwi untuk memantapkan lagi posisinya,kemudian secara perlahan, dia mensohorkan dirinya sebagai raja kepada mereka.

Kabilah Ajaman dan Kabilah Bani Khaled, yang merupakan penduduk asli Dlir’iyya menjadi risau akan sepak terjang dan rencana busuk keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menantang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya.Mereka menangkap saudagar yahudi itu dan menawannya, namun dia berhasil meloloskan diri.

Saudagar keturunan Yahudi dari Keluarga Mordakhai itu mencari suaka di sebuah ladang bernama Al-Malibeed Gushaiba yang berdekatan dengan Al Arid, sekarang bernama Riyadh.

Dia meminta suaka kepada pemilik ladang tersebut agar menyembunyikan dan melindunginya.Tuan ladang itu sangat simpati lalu memberikannya tempat untuk berlindung.Tetapi kemudiannya yahudi itu (Mordakhai) ,hanya tinggal selama sebulan di rumah itu, setelah yahudi itu membantai habis si tuan ladang dan keluarganya. Sungguh bengis, air susu dibalas dengan air aki campur tuba!!. Mordakhai memang pandai beralibi, dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menggarong rumahnya. Dia juga berpura-pura bahwa dia telah membeli ladang tersebut dari tuan tanah sebelum katastropi pembantaian tersebut datang kepada mereka! Setelah merampas tanah tersebut,dia menamakannya Al-Dlir’iyya, sebuah nama yang sama dengan tempat yang pernah dimilikinya.

Keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu dengan cepat mendirikan sebuah markas dan ajang rendezvous bernama “Madaffa” di atas tanah yang dirampasnya itu. Di markas ini dia mengumpulkan para pendekar dan jawara propaganda (kaum munafik) yang selanjutnya mereka menjadi ujung tombak propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah Syekh-nya orang-orang keturunan Arab yang disegani.Dia menabuh genderang perang terhadap Syeikh Saleh Salman Abdulla Al-tamimi, musuh tradisinya. Akhirnya, Syeikh Saleh Salman terbunuh di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al-Zalafi.

Mordakhai berhasil dan puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil menjadikan Dlir’iyya sebagai pusat kekuasaannya. Di tempat ini, dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian dia beri nama dengan nama-nama Arab.

Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni darah Dlir’iyya di bawah Bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan tindak kriminal , menggalang beragam konspirasi untuk menguasai semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan penggarongan tanah dan lading penduduk setempat, membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana jahat mereka . Dengan beragam cara dan muslihat mereka melancarkan aksi mereka. Memberikan suap, memberikan iming-iming wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu. Bahkan, mereka “menutup mulut”dan “membelenggu tangan” para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis trah keturunan mereka kepada kabilah Rabi’a, Anza dan Al-Masaleekh.

Seorang sejarawan hipokrit “si raja bohong” bernama Mohammad Amin al-Tamimi, kepala perpustakaan Kerajaan Saudi, menulis garis silsilah keluarga Saudi dan menghubungkan silsilah Moordakhai pada Nabi Muhammad Saw. Untuk kerja kotornya itu, dia dihadiahi uang sebesar 35 ribu pound Mesir dari Kedutaan Arab Saudi di Kairo, Mesir pada tahun 1362 H atau 1943 M yang diserahkan secar simbolis kepada dubes Arab Saudi untuk Mesir, yang waktu itu dijabat oleh Ibrahim Al-Fadel.

Seperti yang telah disebutkan sebelum ini, keluarga Yahudi berasal dari Klan Saud (Moordakhai) mengamalkan ajaran poligami dengan mengawini ratusan wanita arab dan melahirkan banyak anak. Hingga sekarang amalan poligami itu diteruskan praktiknya oleh anak keturunan. Poligami adalah warisan yang harus dijaga dan diamalkan sebagaimana praktik kakek moyangnya!

Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran ,di ‘arabkan’ dari keturunan Yahudi (Mack-Ren) dan mendapat anak bernama Mohamad dan seorang lagi bernama Saud, yang merupakan cikal bakal Dinasti Saud sekarang ini.

Keturunan Saud melancarkan kampanye dan propaganda pembunuhan terhadap ketua-ketua kabilah Arab yang berada di bawah kekuasaannya dan mencap mereka sesat, telah meninggalkan ajaran Al-Qur;an, dan menyeleweng dari ajaran Islam. JADI MEREKA BERHAK UNTUK DIBUNUH OLEH KELUARGA SAUDI !!

Dalam sebuah buku tentang sejarah Keluarga Saudi hal. 98-101 ,ahli sejarah keluarga mereka telah mempopulerkan bahawa Dinasti Saud mendakwa semua penduduk Najd adalah kafir;maka darah mereka adalah halal, mereka berhak dibantai,harta mereka dirampas,wanita mereka dijadikan budak seks. Seseorang muslim tidak benar benar Muslim jika tidak mengamalkan ajaran yang berasal dari MOHAMMAD BIN ABDUL WAHAB (seorang Yahudi yang berasal dari Turki).

Ajaran dan doktrinnya memberikan kuasa kepada Keluarga Saudi untuk membumihanguskan kampong-kampung mereka. Mereka membunuh para suami dan anak-anak, merampas para istri, menikam perut wanita hamil, memotong tangan anak mereka dan kemudian membakar mereka!! Ditambah justifikasi doktrin faham wahabi bagi mereka untuk seenak pusernya sendiri membajak dan merampas harta penentang mereka.

Keluarga Yahudi ini telah melakukan banyak kezaliman dibawah panji ajaran Wahabi yang dicipta oleh Mordakhai untuk menyemai benih kekejaman di hati manusia. Dinasti Yahudi telah melakukan aksi kebiadaban sejak 1163 H . Sampai-sampai mereka telah menamakan semenanjung tanah Arab dengan nama keluarga mereka (Arab Saudi) sebagai sebuah negara kepunyaan mereka ,dan semua penduduk Arab adalah hamba mereka, bekerja keras untuk kemewahan mereka (Keluarga Saudi).

Mereka telah menghak milikkan semua kekayaan negara tersebut sebagai harta pribadi. Jika ada yang berani mengkritik undang-undang dan peraturan buatan “rezim tangan besi” Dinasti Yahudi tersebut, pihak penguasa tak segan-segan memenggal kepala pengkritik di depan khalayak. Disebutkan bahwa salah seorang puteri mereka melewati masa liburnya dengan plesiran ke Florida, Amerika Serikat bersama para pembantu dan penasihatnya. Dia menyewa 90 kamar mewah (suite) di Grand Hotel dengan tariff satu juta dolar per malam!!! Rakyat yang mencoba bersuara memprotes lawatan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan uang Negara akan di tembak mati dan dipenggal kepalanya!!

Beberapa kesaksian bahwa Keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi:

Pada tahun 1960,”Sawt Al Arab”, sebuah stasiun TV di Kairo, Mesir dan satu stasiun TV Yaman di Sana`a telah mempublikasikan bahwa Keluarga Saudi adalah keturunan Yahudi.

Raja Faisal Al-Saud pada masa itu tidak dapat menafikan bahwa keluarganya sangat berbaik hati kepada Yahudi. Bahkan di Koran Washington Post, tanggal 17 September 1969 dia menyatakan bahwa “Kami Keluarga Saud adalah saudara Yahudi. Kami tidak setuju dan menentang siapa saja dan para penguasa di Semenanjung Arab ini yang menunjukkan pertentangan terhadap Yahudi. Kita mestilah hidup bersama mereka dengan kasih sayang. Negara kami (Arab Saudi) juga merupakan cikal bakal dari keturunan Yahudi dan keturunannya telah tersebar ke seluruh dunia. Ini merupakan deklarasi Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz.

Hafez Wahbi, seorang anggota dewan penasihat Kerajaan Saudi menyatakan dalam bukunya yang bertajuk “Semenanjung Tanah Arab” bahwa Raja Abdul Aziz Al-Saud sebelum meninggal pada tahun 1953 telah menyatakan bahwa ”Ajaran kami(paham wahabi) mendapat tentangan dari seluruh kabilah Arab. Kakek kami Saud Awal, telah memenjarakan ketua kabilah Matheer. Apabila datang ketua kabilah lainnya yang berkeinginan membebasakan ketua kabilah Matheer, Raja Saud Awal memerintahkan supaya para tentaranya memenggal kepala mereka. Bahkan Raja Saud Awal mencoba memalukan mereka dengan menjemput mereka untuk diundang makan dari tempat duduk yang dibuat dari daging mangsa yang telah dipenggal, dimana kepala-kepala mereka diletakkan diatas pinggan makanan. Rombongan tersebut menjadi sadar dan enggan memakan danging saudara mereka, kemudian dia memerintahkan para tentara untuk memenggal kepala rombongan itu juga. Tindak pidana yang sungguh bengis dan tak manusiawi ini dilakukan oleh Raja Saud Awal terhadap manusia-manusia tak berdosa hanya karena mereka menentang kebijakan despotisnya..

Hafez Wahbi menyatakan lebih jelas lagi bahawa Raja Abdul Aziz Al-Saud teramsuk salah satu orang yang harus bertanggung jawab dan berkaitan erat dengan drama pembantaian ketua-ketua Kabilah Matheer yang bermaksud menjenguk Faisal Al-Darweesh, salah satu tahanan Raja Saud. Dia menyeru agar warga dari Kabilah Matheer lainnya mengurungkan maksudnya untuk membebaskan pemimpin mereka, jika mereka bersikukuh mereka akan bernasib sama seperti pemimpinnya, yakni kepala mereka akan dipenggal. Dia telah membunuh Syekh tersebut dan menggunakan darahnya untuk berwudu` sebelum menunaikan shalat. Kesalahan Faisal Al-Darweesh pada waktu itu adalah mengkritik Raja Abdul Aziz Al-Saud karena Raja Saudi itu bersedia menandatangani sebuah dokumen perjanjian dengan pihak kolonial Inggris, tahun 1922 bertempat di Al-Aqeer. Dokumen perjanjian itu berisi penyerahan Negara Palestina kepada Yahudi.

Inilah politik kebijakan Rezim ini yang masih terus diamalkan oleh Keluarga Yahudi. Kredo gerakan mereka adalah merampas harta kekayaan negara lain, merompak, menipu dan melakukan pelbagai jenis kekejaman ,kezaliman,dan kekufuran- semua itu dilakukan bekerjasama dengan agama yang mereka cipta –Wahabi- yang membenarkan pemenggalan kepala penentang mereka.

(Diterjemahkan secara bebas dari sebuah naskah berbahasa Arab berjudul “Aly Sa’ud, Min Aina? wa Ilaina?” yang ditulis oleh Muhammad Sakher)


Biang Krisis BBM di Indonesia

September 5, 2008

Sebagai anggota WTO dan aplikasi kesepakatan peminjaman hutang terhadap IMF, Bank Dunia, dan ADB, Indonesia terlibat dalam alur perdagangan pasar bebas. Terintegrasinya perekonomian Indonesia dengan dunia telah berpengaruh pada perekonomian nasional, terutama terhadap sektor migas yang menjadi sektor utama liberalisasi ekonomi. Seperti ketika konsumsi bahan bakar di AS meningkat saat liburan musim panas, sementara produksi minyak dunia tetap maka berimbas pada kelangkaan minyak yang berbuntut kenaikan harga. Sementara harga BBM di Indonesia tidak ditetapkan dari biaya produksinya tapi dihitung berdasarkan harga minyak rata-rata dunia. Sehingga ketika harga minyak dunia naik maka akan berpengaruh pada harga BBM di Indonesia.

Pada akhir Januari 2008, pemerintah mengubah APBN 2008 karena terjadi defisit. Menurut pemerintah terjadinya defisit dikarenakan kenaikan harga minyak dunia yang menembus angka US$ 100 per barel. Salah satu cara pemerintah untuk mengurangi defisit ialah dengan semakin memperbesar ekspor migas dan memotong subsidi BBM. Sebagai pembenarannya pemerintah menginformasikan kepada publik bahwa subsidi BBM sebagai pos pengeluaran terbesar. Dengan begitu maka harga BBM di dalam negeri akan kembali diplot mengalami kenaikan meskipun di sisi lain minyak banyak diekspor ke luar negeri.

Pemberitaan kelangkaan BBM dan minyak tanah selama satu tahun ini sejalan dengan terpecahkannya rekor nilai ekspor migas Indonesia. Pada tahun 2007 saja, ekspor migas Indonesia sebesar US$ 22,05 juta atau naik 3,99 persen dari tahun sebelumnya. Ekspor migas 2007 terdiri atas ekspor minyak mentah yang mencapai US$ 9.2 juta atau naik 12,94 persen dibanding tahun 2006 sebesar US$ 8.2 juta. Sedangkan ekspor gas sebesar US$ 9.9 juta atau turun 2,34 persen dibanding tahun 2006 sebesar US$ 10.2 juta. Meskipun begitu untuk 2008 produksi gas diperkirakan akan naik kembali menjadi 1.16 juta barel dibanding tahun 2007 sebesar 1.12 juta barel. Sementara itu menurut data BPS awal tahun 2007, pengangguran terbuka mencapai 10,55 juta orang, sementara angkatan kerja baru tahun ini diperkirakan 2,1 juta. Padahal pada tahun 2006, 1% pertumbuhan ekonomi hanya berkolerasi dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 48 ribu orang. Dengan demikian tahun 2008 akan terjadi ledakan kemiskinan yang pada tahun 2006 saja jumlahnya mencapai 128,94 juta orang. Sehingga bisa ditarik benang merah antara peningkatan ekspor migas dengan menurunnya kesejahteraan masyarakat. Minyak yang diekspor dalam kenyataannya tidak memberi kontribusi apapun terhadap masyarakat.

Di sisi lain, penghematan energi yang dicanangkan presiden melalui Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2005 nyatanya tidak sinkron. Karena meskipun rakyat dipaksa melakukan penghematan, namun penghematan BBM untuk listrik hanyalah usaha pengalihan alokasi BBM bersubsidi ke kuota ekspor. Dengan atau tanpa upaya penghematan pun nyatanya tarif dasar listrik dan BBM tetap mengalami kenaikan.

Atas dasar alasan untuk mengurangi subsidi BBM, mulai Mei 2008, di luar opsi kenaikan harga BBM, pemerintah merencanakan pembatasan pembelian premium dan solar bersubsidi untuk sepeda motor dan mobil pribadi. Sedangkan kendaraan umum masih disubsidi penuh. Nantinya setiap kendaraan pribadi mendapat jatah pembelian bahan bakar per hari. Volume pembelian dikendalikan melalui kartu pintar (smart card) yang ditempel di kendaraan. Program ini dicanangkan atas asumsi bahwa setiap kendaraan pribadi hanya berhak menikmati BBM bersubsidi sekian liter per hari. Jika jatah BBM subsidi dari pemilik kendaraan pribadi tersebut habis, maka dia harus membeli BBM non subsidi yang harganya cukup mahal. Sekilas, argumentasi demikian terasa benar, namun dalam praktek di lapangan tentu akan banyak kekacauan besar sebagai mana pengalihan minyak tanah ke kompor gas yang kacau.

Selain mematangkan program pembatasan premium dan solar, pemerintah tengah menggodok rencana pembatasan konsumsi minyak tanah. Berhubungan dengan itu pula, program konversi minyak tanah mulai dilebarkan ke daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Program pembatasan BBM dan minyak tanah ini berjalan dalam kondisi pengelolaan migas yang kacau. Seperti yang telah diketahui, kelangkaan minyak tanah terjadi di mana-mana. Kelangkaan ini terjadi sejak program konversi minyak tanah ke gas diluncurkan PT Pertamina. Bersamaan dengan itu, pasokan minyak tanah ke daerah yang menjadi sasaran konversi pun dibatasi. Namun tidak jarang kelangkaan terjadi di daerah yang belum mengalami konversi. Akibatnya minyak tanah yang harga normalnya Rp2.300 melonjak menjadi Rp3.000–Rp4.500 di tingkat pengecer. Padahal jika kita lihat dana yang telah digunakan lebih dari Rp 3 triliun untuk menyediakan tabung gas, kompor, dan selang yang dibagikan gratis kepada masyarakat, kemudian ditambah biaya teknis untuk operasional smart card, maka jumlahnya bisa mengurangi nilai subsidi yang dipotong.

Faktor lain yang menyebabkan krisis BBM terjadi adalah liberalisasi pengelolaan migas. Penerapan UU Migas No.22/2001 tidak memperhatikan kondisi industri perminyakan nasional dan daya beli masyarakat. Melalui peraturan tersebut, pemerintah memantapkan liberalisasi di sektor migas dan memberikan jalan bagi swasta dan asing berinvestasi dalam bisnis BBM. Kemudian pada tahun 2007 Undang-Undang Penanaman Modal Asing disahkan oleh DPR. Undang-undang ini tidak lagi membedakan kedudukan investor dalam negeri dengan investor asing, dan secara jelas memberikan keleluasaan korporasi untuk berkecimpung dalam segala sektor ekonomi tidak terkecuali sektor-sektor strategis yang menentukan hajat hidup orang banyak.

Dampak dari liberalisasi ekonomi di sektor migas ialah banyaknya kilang minyak di Indonesia yang telah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan minyak seperti Chevron, Exxon Mobil, Conoco Phillips, Shell, Texaco, BP, UNOCAL, dan Halliburton. Dengan UU Migas yang telah ada maka perusahaan minyak yang menjadi kontraktor bagi hasil (KPS) di Indonesia diperbolehkan untuk menjual sendiri minyaknya. Apalagi pada awal 2008, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengeluarkan peraturan untuk membebaskan bea masuk impor barang untuk kegiatan usaha hulu migas dan panas bumi, menanggung pajak pertambahan nilai (PPN) impor barang untuk kegiatan eksplorasi hulu migas dan panas bumi, sekaligus membebaskan bea masuk impor platform pengeboran produksi terapung dan di bawah air.

Pemerintah juga meyakini akan meningkatnya investasi di sektor migas dan sangat optimis 26 blok migas yang ditawarkannya pada Desember 2007 akan diminati investor. Selain memberikan kepastian hukum dengan pembebasan bea masuk dan menanggung PPN barang impor, pemerintah juga memberikan bagi hasil (split) yang sangat menarik. Untuk blok migas yang berada di laut dalam misalnya, pemerintah bersedia menurunkan bagi hasil hingga 50%. Padahal, biasanya untuk minyak bagi hasil pemerintah mencapai 85% dan untuk gas mencapai 60% Karena itu pula pemerintah mencanangkan target investasi migas tahun ini sebesar US$ 14.4 miliar atau sekitar Rp 135.4 triliun.

Ketika terjadi defisit yang salah satunya diakibatkan target lifting minyak dalam APBN 2008 yang awalnya diproyeksikan 1.034 juta barrel per hari tidak tercapai, maka kebijakan pemerintah menaikan investasi asing mesti dipertanyakan kembali. Karena semakin besar penguasaan perusahaan asing atas kilang minyak berarti semakin memperkecil produksi migas nasional dan mengakibatkan krisis BBM. Minyak yang didapat tidak lagi dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat tetapi diambil atas dasar keuntungan pihak perusahaan.

Berkaitan dengan ditingkatkannya ekspor migas, kelangkaan BBM dan minyak tanah yang semakin kentara terjadi di Indonesia, Dirut Pertamina, Ari Soemarno malah beralasan bahwa Pertamina sama sekali tidak pernah mengurangi pasokan BBM dan menjamin stock dalam kondisi aman. Sebagai kambing hitamnya, Ari mengatakan bahwa masalah distribusi BBM dikarenakan cuaca buruk dan banjir. Ditambahkannya pula bahwa kelangkaan ini terjadi karena banyaknya penyelundupan BBM di mana BBM bersubsidi dibeli untuk kemudian dijual kembali di sektor industri yang mematok harga lebih tinggi.

(Sumber: http://www.apokalips.org)


Indonesia; Negara Kaya Yang Doyan Berhutang

September 5, 2008

Posisi utang negara yang dikelola oleh Departemen Keuangan saat ini berada di posisi Rp1.420 triliun.

Menurut Dirjen Pengelolaan Utang Negara Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto, utang tersebut terbagi menjadi dua, yakni sekira Rp820 triliun untuk utang surat berharga dan sisanya Rp600 triliun disokong oleh pinjaman luar negeri.

“Pinjaman itu baik dari bank komersial luar negeri atau pinjaman multilateral,” ujarnya, kepada wartawan di Pacific Place, kawasan SCBD, Jakarta, Jumat (29/2/22008).

Sementara itu, jika dilihat dari sisi APBN 2008, pembiayaan sumber utang negara dari surat utang berharga dipatok Rp91,6 triliun.

Dari jumlah yang ditetapkan tersebut, saat ini penerbitan surat utang telah mencapai sekira Rp13 triliun, dan utang dalam dolar senilai Rp2 miliar atau setara dengan Rp18 triliun.

“Jadi total penerbitan surat utang negara totalnya baru Rp31,1 triliun atau 33,9 persen,” ujarnya.

Indonesia Tak Bisa Reschedule Utang

Pemerintah memastikan tidak akan melakukan penjadwalan ulang (reschedule) atas pembayaran utang luar negeri. Meski perekonomian dunia, termasuk Indonesia, diproyeksi akan melambat.

Sekretaris Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas Syahrial Loetan mengatakan, penjadwalan ulang pembayaran utang tidak bisa dilakukan. Hal itu disebabkan saat ini Indonesia termasuk kelompok negara yang berpenghasilan menengah.

“Income per kapita Indonesia sudah mencapai USD2.000. Memang belum tinggi banget, tapi itu sudah termasuk menengah,” katanya.

Selain itu, rating Indonesia terkait pembayaran utang di berbagai lembaga internasional sudah baik. Sehingga, jika pembayaran ulang ini dilakukan akan menurunkan rating Indonesia.

Akibatnya, berdampak buruk terhadap iklim bisnis di Indonesia yang menurunkan tingkat kepercayaan investor.

“Menurut saya untuk jadwal ulang pembayaran utang luar negeri sepertinya bukan policy yang begitu baik,” tukasnya

Total Utang RI ke World Bank Rp243,7 T

Sejak zaman Soekarno menjadi presiden pertama Indonesia hingga sudah berganti enam kali presiden, lembaga donor internasional World Bank selalu “setia” menggerojoki utang. Mau tau totalnya?

World Bank atau Bank Dunia telah aktif di Indonesia sejak 1967. Saat itu, Indonesia membutuhkan uang yang cukup banyak untuk mendanai pembangunan. Sementara Negeri Zamrud Khatulistiwa ini masih belum mampu mendanai program-program infrastruktur.

“Sejak saat itu hingga saat ini, Bank Dunia telah membiayai lebih dari 280 proyek dan program pembangunan senilai USD26,2 miliar di semua sektor perekonomian,” ujar Managing Director The World Bank Group Ngozi Okonj, pada diskusi mengenai masalah kemiskinan, pemerintahan, dan ekonomi, di Hotel Mulia, Senayan Jakarta, Rabu (30/1/2008).

Jika dikonversikan maka jumlah tersebut setara dengan Rp243,725 triliun (Rp9.302 per USD).

Pinjaman tersebut, ujarnya, telah digunakan pemerintah Indonesia untuk mendukung pengembangan energi, industri, dan pertanian. Sementara yang sektor yang paling mendominasi selama 20 tahun pertama yakni infrastruktur yang pemberiannya kepada masyarakat miskin.

Sedangkan pemberian pinjaman aktif Bank Dunia terdiri dari 28 proyek senilai USD2,9 miliar atau setara dengan Rp26,977 triliun, dengan sisa dana yang belum dicairkan USD1,7 miliar atau setara dengan Rp15,814 triliun.

(Sumber http://www.okezone.com)